Sabtu, 02 Juli 2022

BELAJAR MEMBACA BAGI ANAK USIA DINI

Persoalan membaca dan menulis merupakan fenomena tersendiri khususnya di Indonesia. Awalnya memang pelajaran baca tulis mulai diajarkan pada tingkat pendidikan SD. Pada perkembangan terakhir, hal itu menimbulkan sedikit masalah, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak lulusan Taman Kanak-kanak belum mendapat pelajaran membaca dan menulis. Sehingga banyak institusi pendidikan SD mentargetkan kemampuan calistung sebagai pra syarat masuk SD, bahkan SD hanya mau menerima anak-anak yang sudah bisa membaca, menulis dan berhitung.

Karena tuntutan itulah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar dipraktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis sebelum masuk sekolah dasar.

Berdasarkan teori Piaget, usia 2-7 tahun anak-anak baru memasuki masa praoperasional. Pada rentang usia ini anak baru mengembangkan keterampilan berbahasa dan menggambar, namun belum dapat berfikir abstrak atau logika. Cara belajar membaca dengan metode yang sangat formal, seperti kewajiban menghafal nama huruf, lalu mengeja gabungan huruf, akan menguras konsentrasi tinggi sehingga tidak sesuai untuk anak usia dini.  

Beberapa pihak berpendapat pengajaran membaca yang dilakukan terlalu dini akan menyebabkan efek buruk pada anak-anak, yaitu terampasnya masa bermain.

Bermain adalah kegiatan yang terjadi secara alamiah pada anak-anak, bermain berguna untuk membantu anak-anak memahami dan mengungkapkan dunianya baik dalam taraf berfikir maupun perasaan. Bermain memberi anak perasaan menguasai (master) atau mampu mengendalikan hal-hal yang ada dalam dunianya. Bermain mencakup penggunaan simbol, tindakan atau obyek yang mempunyai arti untuk diri mereka sendiri. Karena bermain tidak terkait pada realitas, maka dimungkinkan bagi anak untuk mengubah-ubah menatanya, dimana hal ini juga penting dalam perkembangan pemahaman mereka, sama halnya dengan perkembangan kreativitas.

Namun, berdasarkan temuan pengalaman beberapa ahli pembelajaran dewasa ini, sesungguhnya bukan patokan usia yang paling besar menentukan boleh atau tidaknya anak belajar membaca, melainkan bagaimana caranya mengajarkan keterampilan membaca tanpa membuat anak-anak menjadi stres dan kehilangan kesenangan bermainnya. Karena itu, penting untuk menciptakan suasana belajar membaca menjadi saat yang menyenangkan bagi anak-anak, sama seperti ketika mereka bermain bola atau bermain boneka. Seperti pendapat Gordon Dryden, belajar membaca seharusnya menjadi proses yang menyenangkan dan alami.

Mengajarkan keterampilan membaca bisa dengan berdifusi dalam keseharian anak-anak, tanpa membuat mereka kehilangan masa bermainnya.

Metode yang sesuai untuk anak usia dini akan membuat anak tertarik untuk belajar membaca dengan tawa riang dan mengijinkan anak untuk bergerak. Karena proses belajar yang kaku akan terasa berat bagi anak. Seperti pendapat Glenn Doman, anak-anak kecil ingin sekali belajar sampai mereka tidak dapat membedakan antara belajar dan bermain.

Dengan pendekatan bermain, dalam jadwal yang fleksibel, tidak terikat durasi waktu dan target yang ketat, anak-anak bisa mempelajari apapun, termasuk belajar membaca dan pelajaran yang berbasis logika. Sehingga kegiatan belajar membaca menjadi kegiatan yang menggembirakan dalam keseharian anak dan bukan paksaan.

Persepsi tentang belajar akan sangat berpengaruh pada cara menemani dan mengarahkan anak-anak belajar. Jika memahami kegiatan belajar sebagai kegiatan terstruktur, harus duduk manis dan diam, maka anak usia dini tidak akan menyukainya. Belajar yang efektif untuk mencapai tujuan belajar anak usia dini adalah dengan pendekatan bermain dan bergembira. Sebagai orangtua atau pendidik, pandai-pandailah menarik minat belajar anak. Montessori meyakinkan bahwa lingkungan harus kaya motif sehingga mampu merangsang minat untuk beraktivitas dan memancing anak-anak untuk menjalani pengalamannya sendiri.

Dalam memperkenalkan nama-nama dan bunyi huruf alphabet pada anak-anak, jika menggunakan cara yang biasayaitu hanya dengan menunjukkan huruf yang tertera di buku lalu membacakannya dengan cara yang kaku, makaanak tidak akan berminat. Tetapi bila memperkenalkan nama-nama dan bunyi huruf alphabet dengan menggunakan poster huruf berwarna atau kartu huruf, lalu kenalkan huruf dengan lagu, tampilkan ekspresi wajah yang riang di hadapan anak-anak, tentu akan menarik minat mereka.

Jika anak sudah berminat,akan terlihat respon dari anak-anak, maka orangtua atau pendidik tinggal konsisten untuk mengulanginya pada hari yang lain dengan durasi waktu sesuai dengan daya tahan anak. Jangan sampai memaksakan belajar pada anak yang tampak tidak berminat. Karena semakin dipaksakan, maka anak akan semakin menjauh dan mogok belajar.

Mengajarkan membaca pada anak, perlu menjaga kondisi emosi, karena anak-anak sangat peka. Jika kita mengajak belajar pada anak pada saat suasana hati sedang tidak nyaman, dengan cepat mereka akan mampu mendeteksi hal tersebut. Karena nada suara dan raut wajah jarang bisa dimanipulasi. Dampak ketika anak mendeteksi suasana tidak nyaman, mereka akan menolak belajar bersama. Seperti pendapat Gordon Dryden, emosi adalah gerbang ke arah belajar. Karena itu, penting menghadirkan emosi positif dalam kegiatan belajar.

Metode sederhana yang diciptakan sendiri dan disajikan dengan setulus hati pada anak-anak, jauh lebih berpengaruh pada mereka dibandingkan dengan setumpuk alat belajar yang mahal yang dipaksakan pada anak tanpa menghadirkan “hati” bersama mereka.

Anak usia dini belajar tidak terstruktur. Jika pembelajaran di sekolah dibuat tersusun rapi, mengikuti kurikulum dan silabus yang berurutan, maka fakta sebaliknya terjadi pada anak usia dini. Mereka bisa belajar pada saat-saat yang tidak terduga. Mungkin pada saat bermain pasir atau menyusun puzzle di sekolah, atau pada saat bersantai bersama orangtua di rumah. Kepekaan orangtua dan pendidik perlu ditingkatkan untuk memanfaatkan antusias anak dalam belajar kapan saja dan di mana saja.

Metode belajar membaca sangat bervariasi dengan kelebihan dan kekurangannya. Metode dasar belajar membaca bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu metode kata, suku kata dan mengeja. Kita dapat memilih atau menggunakan ketiga metode ini sekaligus dengan pendekatan yang lebih personal sesuai karakteristik anak.

Dalam belajar membaca bisa menggunakan berbagai sarana untuk belajar, baik buku, worksheet, poster, kaset dan sebagainya. Terlebih bagi anak-anak yang cenderung cepat bosan belajar dengan satu cara, maka belajar dengan multimetode akan sangat membantu orangtua atau pendidik untuk memancing kembali minat belajar anak. Dengan metode gabungan, proses belajar bisa menjadi lebih cepat. Karena kedua sisi otak, otak kiri (logis dan rasional) dan otak kanan (kreatif) akan tersentuh.

Variasi semua metode akan membuat kegiatan belajar menjadi lebih dinamis dan kegiatan belajar membaca menjadi kegiatan yang mengasyikkan.

(Tulisan April 2015, pernah dimuat di Majalah Pendidikan Kandaga)

Ilustrasi: Gibran (keponakan) saat umur 3 tahun, asyik membaca buku bantal

Kamis, 16 Juni 2022

CAPAIAN PEMBELAJARAN PAUD (Puisi Akrostik)

Capaian pembelajaran ibarat navigasi
Acuan yang membimbing peserta didik mencapai hasil akhir
Para guru diarahkan ke jalan yang harus diikuti
Anak tersadarkan tentang apa yang akan mereka capai
Integritas pengetahuan keterampilan dan sikap
Arah yang diberikan sesuai dengan perkembangan anak
Nilai Agama fisik-motorik emosional bahasa dan kognitif

Pendidikan yang memerdekakan
Elemen dipetakan sesuai perkembangan peserta didik
Memuat sekumpulan kompetensi dan lingkup materi yang tersusun komperhensif
Bersama kriteria penilaian mengidentifikasi tujuan belajar yang terarah
Eksplorasi elaborasi dan konfirmasi bagai mata rantai
Layanan Pendidikan sesuai hak anak
Anak menjadi pusat pembelajaran
Jenjang PAUD pada fase pondasi
Akhir capaian menjadi titik awal di jenjang Sekolah Dasar
Rasional dirumuskannya capaian perkembangan
Agar anak mampu membangun kesenangan belajar
Nilai Agama dan budi pekerti jati diri literasi dan STEAM

Profil pelajar Pancasila dalam paradigma pembelajaran baru
Anak distimulasi percaya diri dan bereksplorasi
Untuk mewujudkan kompetensi dan karakter yang sesuai
Dukungan lingkungan belajar memastikan potensi anak terwujud

Garut, 7 Agustus 2021
Ditulis saat mengikuti Diklat Penguatan Komite Pembelajaran Program Sekolah Penggerak Angkatan 1

Puisi akrostik diartikan sebagai salah satu karya sastra berbentuk puisi atau sajak yang menyusun sebuah nama atau kata, dengan huruf pertama tiap baris dibaca menurun vertikal.

CITA-CITA (repost, sebuah catatan di akhir tahun ajaran 2013/2014)

“Susan, Susan, Susan, sudah besar mau jadi apa? Aku kepingin pinter biar jadi dokter.” Begitu sebagian syair lagu anak-anak yang dibawakan Ka Ria Enes bersama boneka Susan. Lagu tersebut menggambarkan bagaimana anak usia dini sudah mempunyai cita-cita. Anak-anak usia 4-6 tahun, umumnya sudah bisa menyebutkan ingin menjadi apa ketika mereka besar kelak. Walaupun masih berubah-ubah, misal hari ini bilang cita-citanya ingin menjadi dokter besok bilang mau jadi polisi. Ketika melihat gurunya di sekolah, anak bilang ingin menjadi guru, dan saat yang berbeda anak bilang ingin menjadi presiden.

Dalam kurikulum PAUD yang bersifat tematik, ada tema “Pekerjaan”. Tema ini membahas berbagai macam pekerjaan/profesi. Anak-anak diajak untuk mengenal pekerjaan, mulai dari bercakap-cakap tentang pekerjaan orangtua mereka, pekerjaan yang mereka ketahui, sampai pekerjaan apa yang menjadi cita-cita mereka.

Cita-cita bisa menjadi motivasi belajar untuk anak. Ketika anak terlihat enggan belajar, lalu ditanyakan, “Kalau besar nanti mau jadi apa?” Misal anak menjawab mau jadi astronot. “Kalau mau jadi astronot, harus rajin belajar. Belajar yu...” Biasanya anak semangat lagi. Ada juga anak yang meminta penjelasan lebih jauh tentang hubungan belajar dengan cita-cita, maka sampaikan penjelasan dengan bahasa yang dipahami anak.

Pernah seorang anak yang enggan belajar menyebutkan cita-citanya ingin menjadi pemain bola. Ketika disampaikan bahwa pemain bola itu harus pandai supaya bisa mengerti strategi dan penjelasan dari pelatih, ia pun memahami dan kembali semangat belajar.

Ada seorang anak yang terlalu diplot oleh orangtuanya, ketika ditanya tentang apa cita-citanya. Dia menjawab, “Kumaha Mamah wé.” (Terserah maunya Mamah saja). Kalau seperti ini, maka anak akan kehilangan motivasi internal.

Tidak sedikit orangtua yang pernah punya cita-cita tetapi tidak kesampaian, akhirnya berambisi agar anaknya kelak bisa menjadi seseorang seperti apa dicita-citakannya dulu.

Sebagai orang tua atau pendidik, hendaknya tidak terlalu mengarahkan anak dalam memilih cita-cita. Biarkan saja anak bebas memilih cita-cita sesuai keinginannya. Tugas orang tua dan pendidik cukup memberi penjelasan tentang berbagai pekerjaan/profesi dan membantu mereka belajar untuk meraih cita-cita tersebut. Seiring perkembangan dan proses belajar, anak-anak pun akan memahami cita-cita apa yang ingin mereka raih.

Ilustrasi: Buku yang baru dibeli dan belum sempat dibaca

Sabtu, 11 Juni 2022

Penguatan Komite Pembelajaran 4 PSP1

Sabtu, 11 Juni 2022, Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Penguatan Komite Pembelajaran 4 Program Sekolah Penggerak Angkatan 1 Tahun 2022. Kegiatan ini diikuti oleh Pelatih Ahli, Kepala Sekolah, Guru Komite Pembelajaran, dan Pengawas Sekolah. Dilaksanakan melalui moda luar jaringan (luring).Untuk Kabupaten Garut bertempat di SMPN 1 Garut, SMPN 2 Garut, dan SMAN 11 Garut. PSP1 Jenjang PAUD ditempatkan di SMPN 2 Garut.

Seperti biasa, diawali dengan Ceremonial Pembukaan, Pembelajaran Mandiri Terbimbing, Sesi Bersama Pelatih Ahli, diselingi Ice Breaking diakhiri dengan Penutup dan photo Bersama.

Pada sesi Pembelajaran Mandiri Terbimbing, pembukaan diisi dengan kegiatan pemantik, dilanjutkan Refleksi mulai dari diri, lalu Pembacaan dokumen bahan bacaan, dan Rancangan instrumen observasi kelas. Bahan bacaan mengantarkan pada Pola Pikir, bahwa pola pikir menentukan kesuksesan. Peserta diajak mengkaji bagaimana pola pikir menetap dan pola pikir berkembang. Sampai pada pokok bahasan PKP 4 yaitu Umpan Balik. Tujuan umpan balik informatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada si penerima untuk mendengarkan pembelajaran selama berlatih. serta beberapa kebutuhan informasi yang perlu diketahui.

Lingkungan belajar yang positif dapat dibangun dengan menjadikan refleksi sebagai bagian dari proses rutin di komunitas praktisi, sehingga anggota komunitas terbiasa melakukan refleksi secara mandiri, begitu pula dengan memberikan dan menerima umpan balik. Terbuka terhadap umpan balik adalah karakteristik guru-guru yang dapat terus berkembang.

Lingkungan belajar yang positif akan mendukung proses belajar guru. Salah satu penerapan umpan balik bisa antara rekan sejawat. Hal itu bisa dilakukan dengan observasi kelas rekan sejawat untuk melihat bagaimana rekan guru melakukan pembelajaran di dalam kelas.

Tiba pada sesi Ice Breaking, Pelatih Ahli memberikan game seru yang memantik peserta untuk kreatif dan berpikir cerdas. Dengan begitu peserta siap mengikuti Kembali materi PKP berikutnya, yaitu Penguatan pemahaman terkait umpan balik, Simulasi studi kasus umpan balik, Refleksi, Rencana aksi nyata, Praktik baik, serta Evaluasi penguatan komite pembelajaran.

Tanpa terasa kegiatan PKP 4 pun berakhir. Menutup kegiatan dengan do’a lalu mencari spot untuk photo bersama.

Penulis adalah Kepala TK AR-ROJA Kabupaten Garut.

Senin, 06 Juni 2022

Memantaskan Diri Sebagai Sekolah Penggerak

Coba kita ingat kisah Cinderella, Si Upik Abu yang dipersunting Sang Pangeran. Saat para perempuan seisi negri diundang ke pesta di Istana, semua memantaskan diri untuk menghadiri acara bergengsi tersebut. Cinderella menyadari keterbatasannya untuk pergi ke istana. Perempuan dengan paras yang cantik itu, tidak mungkin berkesempatan bertemu Pangeran, jika tanpa bantuan Ibu Peri yang memantaskan penampilan dirinya.

Lalu apa hubungannya dengan PSP? Program Sekolah Penggerak yang notabene mengedepankan kualitas SDM sekolah, membuka kesempatan untuk semua sekolah dengan kondisi apapun. Pada kenyataannya, kualitas SDM saja tidak cukup. Sebrilian apapun buah pemikiran dan sebagus apa pun program dirancang, pada akhirnya tetap membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Seperti sebuah hukum alam, tetaplah sekolah dengan sarana prasarana yang layak lebih pantas untuk dilirik.

Benar keterbatasan membuat orang menjadi kreatif. Begitulah sekolah dengan segala keterbatasan mampu menggiring warga sekolah menjadi lebih kreatif. Tidak meratapi apa yang tidak dimiliki, tetapi mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Kondisi ini mampu meberi motivasi untuk terus berinovasi dan berkolaborasi. Pada saat yang sama, sekolah yang sudah pantas secara fisik akan lebih fokus pada program tanpa harus terbagi pemikiran untuk melengkapi sarana prasarana esensial.

Maka wajarlah ketika ada momen pemilihan duta Lembaga PSP, ada Lembaga yang sadar diri pada keberadaanya yang jauh dari layak. Di sinilah kehadiran “Ibu Peri” diharapkan dapat membantu untuk memantaskan diri Lembaga yang terpilih dalam Program Sekolah Penggerak namun secara sarana prasarana masih di bawah standar.

Lalu siapakah Ibu Peri yang dimaksud? Tentu saja para pihak terkait yang dapat memberi bantuan dalam bentuk regulasi atau bantuan secara fisik. Intervensi dari Lembaga Pemerintah, Dinas Pendidikan, Pemda setempat, dan pihak swasta yang peduli Pendidikan, merekalah pemilik tongkat Ibu Peri.

Penulis adalah Kepala TK AR-ROJA Kabupaten Garut.

(Ilustrasi dari internet)

Selasa, 31 Mei 2022

Review Buku Panduan Guru untuk Satuan PAUD PSP

Pada Tahun 2021, Lembaga PSP (Program Sekolah Penggerak) PAUD Angkatan pertama, mendapat bantuan Buku Panduan Guru yang diterbitkan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Bantuan tersebut berupa lima paket buku panduan guru, masing-masing ada enam buku panduan.

Buku satu, Buku Panduan Guru Pengembangan Pembelajaran untuk Satuan PAUD, memuat konsep dan kerangka besar kurikulum dengan paradigma pembelajaran baru yang mendukung konsep-konsep di buku panduan lain. Disebutkan buku pertama ini diibaratkan seperti cetak biru rumah, maka buku lain diibaratkan sebagai penggambaran detail bagian-bagian rumah tersebut.

Buku dua, Buku Panduan Guru Capaian Pembelajaran Elemen Nilai Agama dan Budi Pekerti, yang dirancang sebagai inspirasi bagi guru untuk mengintegrasikan nilai agama dan budi pekerti dalam kegiatan pembelajaran.

Buku tiga, Buku Panduan Guru Capaian Pembelajaran Elemen Jati Diri Satuan PAUD. Dalam buku ini mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan anakusia dini secara holistic melalui pengelolaan emosi, penjagaan Kesehatan diri, serta pengenalan diri guna membentuk jati diri.

Buku empat, Panduan Guru Capaian Pembelajaran Elemen Dasar-Dasar Literasi dan STEAM untuk satuan PAUD, berisi tentang apa itu Capaian Pembelajaran Elemen Dasar-Dasar Literasi dan STEAM serta bagaimana penerapannya dalam kurikulum operasional satuan PAUD sesuai dengan konteks lokal satuan.

Buku lima, Buku Panduan Guru Belajar dan Bermain Berbasis Buku Satuan PAUD, dirancang sebagai penghargaan untuk Ibu dan Bapak Guru dalam mengakrabkan anak-anak dengan buku melalui berbagai kegiatan. Diharapkan belajar dan bermain bersama buku akan membangun pengetahuan anak dengan penuh gembira.

Buku enam, Buku Panduan Guru Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Satuan PAUD. Menyajikan pembelajaran dengan pendekatan yang dinamis dialogis. Sejak membuat perencanaan, anak sudah dilibatkan untuk menentukan projek, guru berperan memantik ide dan mendampingi selama proses pembelajaran. Guru tidak memaksakan kehendaknya. Anak ditempatkan sebagai pribadi yang berdaya dan mempunyai kemauan kuat.

Tahun ini, sejak digulirkannya arahan pada PSP PAUD untuk membeli buku untuk kebutuhan pendidik dan Peserta Didik terkait pembelajaran dengan paradigma baru yang ditetapkan oleh Kementerian, dan itu tertuju pada enam buku Panduan Guru, terbersit dalam pikiran bahwa ada revisi dari buku serupa yang sudah diterima tahun lalu. Sesuai arahan, tahun ini seluruh Lembaga PSP PAUD memesan paket Buku Panduan Guru tersebut.

Pertengahan Mei 2022, buku dimaksud sudah sampai di Lembaga kami. Setelah dilihat pada sampul buku tidak terdapat tulisan revisi. Lalu dilihat di bagian dalam sampul pun masih sama tertulis cetakan pertama, 2021 dengan ISBN yang sama dengan buku tahun lalu pada masing-masing buku.

Masih penasaran dan mencari perubahan apa dari buku sebelumnya, ditelaah juga halaman demi halaman, sampai pada buku keenam. Yang ditemukan hanyalah perbedaan kualitas kertas dan warna gambar. Kertas pada sampul tidak terlihat berbeda, tetapi kertas bagian dalam teraba berbeda. Kertas bagian dalam buku yang diterima tahun 2021 lebih bagus. Gambar pada buku tahun ini warnanya tampak lebih tua, entah pengaruh perbedaan kertas atau memang tintanya berbeda.

Sabtu, 25 Desember 2021

Merintis Taman Kanak-kanak di Desa



Merintis Taman Kanak-kanak di Desa

Oleh: Aini Mardiyah (Kepala TK AR-ROJA Garut)

Namaku Aini. Aku menjadi guru TK sejak lulus SMA tahun 1994, di Bandung. Tahun 2003 ditakdirkan berjodoh dan menikah dengan Anang Saripudin, pria asal Garut. Setelah menikah, aku tetap menjadi guru di TK Nur Kusuma, Kecamatan Cibiru, Bandung. Sampai pada bulan Juli 2004, tepatnya dua minggu setelah putra pertamaku lahir, aku pindah ke Garut.

Kami tinggal di sebuah kampung, di Desa Tanjungsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Di kampung ini tampak banyak anak-anak usia dini, namun belum ada tempat untuk  Pendidikan Anak Usia Dini. Terbersit dalam benakku untuk mendirikan Taman Kanak-kanak.

                Bersama suami yang juga berkecimpung di dunia pendidikan, seorang guru SMP, kami mencoba merintis sebuah Lembaga Pendidikan bagi anak usia dini. Diawali mencari tempat yang dapat digunakan sebagai ruang kelas.

Setelah ditelusuri, ada sebuah rumah dinas guru di dekat SDN Tanjungsari, Karangpawitan yang sudah tidak dipakai. Melihat kondisinya sudah tidak layak akibat lama dibiarkan kosong. Setelah mendapat izin dari pihak SDN Tanjungsari dan UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Karangpawitan, bangunan itu dikondisikan. Dibersihkan, dicat, digambari, hingga tampak layak untuk sebuah Taman-Kanak-kanak. Di halamannya dibuat papan luncur dari tembok. Lalu membuat ayunan sederhana dari ban bekas, bertiang bambu.

Perabotan di kelas dilengkapi. Membuat meja pendek untuk anak-anak. Meja kayu untuk guru. Membeli kursi plastik untuk anak dan guru. Sangat sederhana. Satu lagi, membuat sebuah boks bayi dari kayu. Mengapa? Karena aku akan membawa bayiku ke sekolah.

Agustus 2004, dari rumah ditemani adik iparku yang baru saja  lulus SMA, aku menggendong bayi menuju TK baru. TK AR-ROJA yang berarti harapan. Nama yang diambil dari nama Mesjid di Kampung ini.

Sesampainya di sekolah, Sulthan, putraku, ditaruh dalam boks bayi di kantor.  Anak-anak dibariskan di depan kelas. Aku memimpin dengan lincah layaknya seorang guru TK. Bergerak mengikuti lagu, “Angkat kaki silih berganti. Goyang-goyang kanan dan kiri. Bungkukkan badan, jongkok berdiri. Angkat kaki silih berganti …”

Sampai lupa kalau aku ibu yang belum genap satu bulan melahirkan. Saat itu aku sempat meriang, panas dingin. Menurut dokter kandungan, ada luka di dalam rahim. Alhamdulillah tidak parah, masih bisa dibawa kegiatan belajar mengajar.

Akhir tahun ajaran angkatan pertama, ditutup dengan Pentas Seni. Membuat panggung bersama dengan SDN Tanjungsari.

Mei 2006, SDN Tanjungsari perlu kelas tambahan. Bangunan yang dipakai TK akan dijadikan kantor. Tidak bisa menunggu akhir taun ajaran, karena harus selesai pada bulan Juli. Anak-anak TKAR-ROJA  terpaksa di bawa ke sawah. Belajar di rumah sawah kami di atas kolam. Ini berlangsung hingga pembagian buku rapot. 

Di masa libur akhir tahun ajaran, aku dan suami berpikir keras, bagaimana  mencari tempat pengganti untuk anak-anak TK AR-ROJA belajar di tahun ajaran baru.

Pertolongan Allah pun datang. Alhamdulillah, ada warga yang bermaksud menjual sebuah rumah di pinggir jalan. Tempatnya tidak jauh dari SDN Tanjungsari. Dua tahun TK menempati bangunan ini. Namun sayang, halamannya sempit, tidak leluasa untuk anak-anak bermain. Sempat suami mendatangi pemilik tanah di samping TK, tetapi pemilik tidak berkenan menjualnya.

Akhirnya kami membeli sebidang  tanah agak jauh dari pingir jalan, letaknya sekitar 200 meter ke arah Selatan dari  bangunan lama.

Membangun kelas, kantor, dan WC. Halamannya cukup luas. Malah ada  lapangan, bisa untuk bulu tangkis atau futsal. Alat permainan terpasang di halaman bermain. Ada dua buah papan luncur, terowongan berwarna-warni dari ban bekas bis berukuran besar, serta ayunan dari besi yang beratap seng, dengan dua kursi berhadapan bisa dipakai untuk enam anak.

Waktu itu lokasi TK masih terbuka, belum dipagar atau dibenteng. Saat libur Hari Raya Idul Fitri, kami sekeluarga berlebaran di rumah orang tuaku di Bandung. Lama ditinggal, sekitar dua mingguan, kondisi sekolah sungguh membuat tercengang. Ayunan sudah hilang sebagian. Ada yang bilang dilepas dan dijual ke tukang rongsok. Sejak itu, ayunan terus dimutilasi oleh  pemulung hingga tinggal tiangnya yang tersisa.

Kami harus menabung lagi. Alhamdulillah Allah Maha Pemberi rizki, aku mendapatkan tunjangan fungsional, dikumpulkan, dipakai untuk membenteng sekolah dengan dua akses pintu gerbang.

Tahun 2011 aku lulus sertifikasi dan mendapatkan tunjangan, ini sangat membantu untuk biaya operasional sekolah. Ditambah lagi dengan aktifnya aku di Desa, membuka peluang mendapatkan bantuan alat permainan edukasi (APE) berupa jembatan rawayan  dan  panjatan pelangi. Selanjutnya, TK AR-ROJA pun mendapat Bantuan Operasional dari Pemerintah.

Alhamdulillah, TK AR-ROJA tetap bertahan meski kini sudah ada beberapa Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di sekitarnya. Ada dua Taman Kanak-kanak lain dan satu Kelompok Bermain (Kober).

TK AR-ROJA dapat berpartisipasi dalam Program Sekolah Penggerak jenjang PAUD di Kabupaten Garut.

Semoga TK AR-ROJA dapat terus memberikan sumbangsih dalam Pendidikan Anak Usia Dini yang berkualitas.